Transformasi Makna Kesenian Barongsai Dalam Kehidupan Budaya Umat Buddha Di Vihara Dharma Ratna Klungkung
Keywords:
Barongsai, Kesakralan, Profanisasi, Transformasi Makna, Umat Buddha.Abstract
Kesenian barongsai mengalami transformasi fungsi dari ranah sakral menuju ruang publik, seiring pergeseran orientasi dari ritual keagamaan ke arah hiburan dan olahraga prestasi, termasuk pengakuan barongsai sebagai cabang olahraga resmi oleh KONI, termasuk di Vihara Dharma Ratna Klungkung. Penelitian ini bertujuan memahami transformasi makna barongsai dari ranah sakral menuju ruang publik dalam kehidupan umat Buddha di vihara tersebut. Penelitian kualitatif jenis mini etnografi ini melibatkan delapan informan melalui purposive sampling, dengan data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara tematik, naratif, dan bingkai. Hasil menunjukkan barongsai berfungsi sebagai media pewarisan budaya Tionghoa, mendorong pergeseran ritual menuju prestasi tanpa menghilangkan nilai tradisional, serta ditemukan negosiasi kesakralan melalui pemisahan barongsai sakral dan profan disertai pemberkatan, dan pemaknaan sebagai ruang aktualisasi nilai Dhamma (viriya, khanti, sati) serta jembatan multikultural masyarakat Klungkung. Transformasi ini berlangsung melalui negosiasi selektif, bukan pergeseran linear, sehingga kesakralannya tetap terjaga. Penelitian merekomendasikan pengurus vihara mempertahankan pemisahan barongsai sakral-profan dan mendokumentasikan sejarahnya, pelatih menyeimbangkan aspek teknis-estetis-spiritual, serta penelitian lanjutan menggunakan pendekatan longitudinal dan komparatif antarvihara.
Downloads
References
Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.
Bodhi, B. (Ed.). (2005). In the Buddha's words: An anthology of discourses from the Pāli canon. Wisdom Publications.
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa
Durkheim, É. (1995). The elementary forms of religious life (K. E. Fields, Trans.). Free Press. (Original work published 1912)
Eliade, M. (1959). The sacred and the profane: The nature of religion (W. R. Trask, Trans.). Harcourt, Brace & World.
Goffman, E. (1974). Frame analysis: An essay on the organization of experience. Harvard University Press.
Irsyadi, M., & Ekawardhani, Y. A. (2023). Barongsai form and color at the Cap Go Meh festival in Singkawang City. Proceeding of International Conference on Business, Economics, Social Sciences, and Humanities, 6, 584–590. https://doi.org/10.34010/icobest.v4i.432
Islam, A. U., & Hidayat, A. (2022). Makna filosofis barongsai dalam agama Konghucu. SUARGA: Studi Keberagamaan dan Keberagaman, 1(1), 17–26. https://doi.org/10.24090/suarga.v1i1.6626
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.
Mahayani, N. N. D. S., Yasa, I. W. P., & Martayana, I. P. H. M. (2025). Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh, Klungkung, Bali (Sejarah, nilai multikultur, dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah di SMA). Keraton: Journal of History Education and Culture, 7(1). https://doi.org/10.32585/keraton.v7i1.6424
Mingjing, H. (2022). Analisis nilai kegembiraan dalam kesenian “barongsay” di kota Foshan, Republik Rakyat Tiongkok. Jurnal Pedagogik Indonesia: Yayasan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Ksatria Siliwangi, 1(1), 1–6. https://doi.org/10.67025/jpi.v1i1.13
Permana, D. F. W., Irawan, F. A., & Awaliyyah, U. A. (2025). Barongsai dalam perspektif olahraga: Evolusi tarian tradisional ke arena kompetisi. Jurnal Pengabdian Olahraga Indonesia, 1(2), 36–41. https://doi.org/10.15294/jpoi.v1i2.22389
Rachma, H. S., & Satriya, C. Y. (2025). Membangun identitas multikultural: Analisis strategi komunikasi pemerintah kota Semarang dalam kegiatan Dugderan 2025. Borobudur Communication Review, 5(1). https://doi.org/10.31603/bcrev.13525
Rahmawati, D. P. (2022). Fungsi pertunjukan barongsai dalam pembelajaran [Skripsi, Universitas Negeri Makassar].
Riyadi, R., Hermawan, E. S., Pelu, M., & Wibowo, G. A. (2022). Reaktualisasi dan pengembangan model pelestarian barongsai sebagai modal sosial harmoni multietnis di Surakarta. Seuneubok Lada: Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Pendidikan, 9(2), 243–254. https://doi.org/10.33059/jsnbl.v10i2.6361
Rosyid, M., & Kushidayati, L. (2021). Melestarikan tradisi Tionghoa: Studi kasus kelompok barongsai Satya Dharma di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus Jawa Tengah. Pangadereng: Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora, 7(1). https://doi.org/10.36869/pjhpish.v7i1.172
Sani, A. (2017). “Atraksi barongsai: Dari klenteng ke mall”, sebuah fenomena desakralisasi simbol ritual agama. Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, 17(2), 1–7. https://doi.org/10.19109/tamaddun.v17i2.2530
Sanjaya, I., Suswandari, & Gunawan, R. (2022). Nilai-nilai tradisi budaya Cap Go Meh pada masyarakat Cina Benteng di Tangerang sebagai sumber pembelajaran di sekolah. Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 6(2), 384–401. https://doi.org/10.22219/satwika.v6i2.23163
Simanjuntak, F. N., & Idawati. (2025). Fungsi kesenian barongsai pada masyarakat Tionghoa di Kecamatan Payung Sekaki Pekanbaru Provinsi Riau. Imajinasi: Jurnal Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Teknologi, 2(2), 253–263. https://doi.org/10.62383/imajinasi.v2i2.740
Srivani, I. D. S., & Aji, R. N. B. (2024). Dinamika barongsai Boen Bio Surabaya tahun 1998–2013. Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah, 15(1).
Sujato, B. (Trans.). (n.d.). Anicca Sutta (Saṃyutta Nikāya 35.93). SuttaCentral. https://suttacentral.net/sn35.93/en/sujato
Sujato, B. (Trans.). (n.d.). Mahānidāna Sutta (Dīgha Nikāya 15). SuttaCentral. https://suttacentral.net/dn15/en/sujato
Sujato, B. (Trans.). (n.d.). Sigālovāda Sutta (Dīgha Nikāya 31). SuttaCentral. https://suttacentral.net/dn31/en/sujato
Sujato, B. (Trans.). (n.d.). Upaḍḍha Sutta (Saṃyutta Nikāya 45.2). SuttaCentral. https://suttacentral.net/sn45.2/en/sujato
Walshe, M. (Trans.). (1995). The long discourses of the Buddha: A translation of the Dīgha Nikāya. Wisdom Publications.
Weber, M. (1978). Economy and society: An outline of interpretive sociology (G. Roth & C. Wittich, Eds.). University of California Press.
Wijaya, G. H. A. T., Budasi, I. G., & Ramendra, D. P. (2025). Lexicons in Barongsai (Lion Dance) in Singaraja. Edu Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1). https://doi.org/10.56832/edu.v5i1.1014
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Adi Liangga Putra, Lauw Acep, Jo Priastana (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










